Thursday Kliwon, 09 September 2010 M  |   |   

Hikmah Ramadhan

Diantara nama bulan Ramadhan yang maghfirah adalah Syahrut Tabiyah dan Sahrul Jihad. Inilah nama-nama lain bulan Ramadhan yang penuh hikmah ini Ramadhan adalah tamu yang sangat agung yang selalu dinanti dan ditunggu oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Ada beberapa hikmah dari bulan Ramadhan yang penuh berkah dan maghfirah ini, yaitu sesuai dengan nama dari bulan Ramadhan itu sendiri. Bulan Ramadhan memiliki banyak nama disamping Ramadhan itu sendiri, diantaranya ialah :

1. Syahrut-Tarbiyah (Bulan Pendidikan)
Kenapa bulan Ramadhan disebut dengan syahrut Tarbiyah/bulan pendidikan, karena pada bulan ini kita dididik langsung oleh Allah SWT. seperti makan pada waktunya sehingga kesehatan kita terjaga. Atau kita diajarkan oleh supaya bisa mengatur waktu dalam kehidupan kita. Kapan waktu makan, kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat dan kapan waktu ibadah.

2. Syahrul Jihad
Pada masa Rasulullah justru peperangan banyak terjadi pada bulan Ramadhan dan itu semua dimenangkan kaum muslimin. Yang paling penting kita rasakan sekarang adalah kita berjihad melawan hawa nafsu sendiri, sehingga kita tetap bersungguh-sungguh menjalan aktifitas kita.

3. Syahrul Qur’an
Al-Qur’an petama sekali diturunkan di bulan Ramadhan dan pada bulan ini sebaiknya kita banyak membaca dan mengkaji kandungan Al-Qur’an sehingga kita faham dan mengerti perintah Allah yang terkandung di dalamnya.

4. Syahrul Ukhuwah
Pada bulan ini kita merasakan sekali ukhuwah diantara kaum muslimin terjalin sangat erat dengan selalu berinteraksi di Masjid/Mushollah untuk melakkukan sholat berjama’ah. Dan diantara tetangga juga saling mengantarkan perbukaan sehingga antara kaum muslimin terasa sekali kebersamaan dan kesatuan kita.

5. Syahrul Ibadah
Bulan Ramadhan disebut juga dengan Bulan ibadah karena pada bulan ini kita banyak sekali melakukan ibadah-ibadah sunnah disamping ibadah wajib seperti sholat sunnat dhuha, rawatib dan tarawih ataupun qiyamullai serta tadarusan al-qur’an.

Teori Kebutuhan

Nasrudin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja. Hakim memulai,

“Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, …”

Nasrudin menukas, “Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukum lah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan.”

Hakim mencoba bertaktik, “Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?”

Nasrudin menjawab seketika, “Tentu, saya memilih kekayaan.”

Hakim membalas sinis, “Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?”

Nasrudin balik bertanya, “Kalau pilihan Anda sendiri?”

Hakim menjawab tegas, “Tentu, saya memilih kebijaksanaan.”

Dan Nasrudin menutup, “Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya.”

(more…)

10 Penyakit Mental Manusia

1. MENYALAHKAN ORANG LAIN

Itu penyakit P dan K, yaitu Primitif dan
Kekanak-kanakan. Menyalahkan orang lain adalah pola
pikir orang primitif. Di pedalaman Afrika, kalau ada
orang yang sakit, yang Dipikirkan adalah : Siapa nih
yang nyantet ? Selalu “siapa” Bukan “apa” penyebabnya.
Bidang kedokteran modern selalu mencari tahu “apa”
sebabnya, bukan “siapa”. Jadi kalau kita berpikir
menyalahkan orang lain, itu sama dengan sikap
primitif. Pakai koteka aja deh, nggak usah pakai dasi
dan jas.

Kekanak-kanakan. Kenapa ?
Anak-anak selalu nggak pernah mau disalahkan. Kalau
ada piring yang jatuh,”
Adik tuh yang salah”, atau ” mbak tuh yang salah”.
Anda pakai celana monyet aja kalau bersikap begitu.
Kalau kita manusia yang berakal dan dewasa selalu akan
mencari sebab terjadinya sesuatu.

(more…)

dunia…

Sering kali aku berkata ketika orang lain memuji,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa hartaku hanya titipan-NYa,
bahwa rumahku hanya titipan-Nya,
bahwa putraku hanya titipan-Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan padaku?
Dan kalau bukan miliku, apa yang harus
kulakukan untuk milik-Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu
yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru merasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu
sebgai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu
sebagai petaka,
kusebut dengan sebutan apa saja untuk
melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan
yang cocok dengan hawa nasfuku,
aku ingin lebih banyak harta,
aku ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
ingin jadi pandai dan pintar,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan Kasih-Nya harus
berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka
selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan
Nikmat dunia mengahampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas “perlakuan
baikku” dan menolak keputusan-Nya yang
tak sesuai dengan keinginanku,
Ya Allah, padahal tiap hari kuucapkan,
“INNA SHALAATII WANUSUKII WA MAHYAAYA
WA MAMAATI LILLAHI RABBIL ‘ALAMIN.”
Sungguhpun Allah tidak membutuhkan
sedikitpun dari ibadah dan perbuatan
yang kita lakukan.

Trik untuk Browsing dan Download Tanpa Batas

Bayangkan anda sedang browsing dengan santai, eh ketika mau browsing kesitus tertentu tiba2 ada message bahwa administrator anda memblok situs tersebut. Atau ketika anda tiba2 mendadak perlu mendownload software/dokumen/ musik eh tiba2 administrator anda memblokir akses download anda.

Jengkel dengan ulah administrator anda ?
Ingin browsing dengan bebas ?
Ingin download tanpa batas ?
Simak terus trik berikut ini.

(more…)